Kohjinsha, pertama kali dengar namanya kok tidak terlalu
familier yah? Ternyata memang iya, meski produk ini ternyata sudah cukup
terkenal di penjuru dunia sana dan di negara asalnya, yakni Jepang, namun
baru-baru ini saja merk UMPC Kohjinsha ini muncul di Indonesia. Ada dua varian
yang keluar, yakni SA1F00 KS dan SA1F00 WS, bedanya ada di besar Harddisk dan
warna.

Sony VAIO TXN27 &
Kohjinsha SA1F00WS
Sekali lihat langsung ngiler, terutama dengan yang Kohjinsha
hitam (SA1F00KS), hehehe tapi berhubung mo beliin hadiah ulang tahun buat
istri, apa boleh buat terpaksa pilih yang “chick
colour” alias warna putih yang seri WS, yang ternyata memiliki perbedaan
kapasitas hard disk dibanding yang KS. WS sebesar 100 GB sedangkan KS sebesar
40 GB. Setelah beberapa lama mencari info mengenai Kohijnsha ini di internet,
akhirnya dapat harga jual di kisaran 8,9 – 8,925 juta rupiah dan dapat info
dari beberapa teman di http://www.forumponsel.com
kalo barang ini dijual di Mall Ambassador. Kebetulan akhir pekan waktu itu mau
ke Jakarta, akhirnya diniatkan sekalian untuk mencari.
Setelah keluyuran di Mall Ambassador sekalian ngabuburit,
akhirnya nemu satu toko yang jual Kohjinsha ini, dan pas stoknya baru datang
siangnya dan kebetulan banget seri yang WS (emang takdir kali yah?). Setelah
tawar menawar akhirnya tokonya mau kasih harga 8,8 juta, setelah gesek kartu
maka Kohjinsha SA1F00WS langsung saya bawa pergi.
Berikut saya sajikan spesifikasi dari Kohjinsha SA1F00WS
beserta komentar saya mengenai spesifikasi yang diberikan:
![]()
AMD Geode LX 800, memiliki kecepatan clock 500 MHz, TDP 3,9
Watts dan L2 data cache 128 KB. CPU ini didesain oleh AMD untuk perangkat UMPC,
dan merupakan saingan dari Intel McCaslin (A100/110) yang memiliki kecepatan
600/800 MHz, TDP 3 Watts dan L2 data cache 512 KB. Diatas kertas, jelas lebih
unggul CPU keluaran Intel. CPU dari intel juga akan dipakai pada produk
Kohjinsha seri SH6, yang menurut review blog My Kohjinsha tidak terlalu jauh
berbeda kinerjanya dengan Kohjinsha seri SA1F00 dari sisi pemrosesan. Saya
sendiri kemarin sempat mencoba UMPC dari Fujitsu, U1010 yang memiliki CPU
McCaslin ini dan dari sisi pemrosesan memang kurang lebih sama cepatnya.
Kesimpulannya, saya cukup puas dengan spesifikasi CPU yang diberikan Kohjinsha
ini. Untuk benchmark AMD Geode dapat dilihat disini.
Standard 512 MB, bisa diupgrade hingga 1024 MB. Cukupan lah
untuk sebuah UMPC bersistem operasi Windows XP Home. Sayangnya, chip dari
RAM-nya merupakan tipe PC2700 SO-DIMM yang sudah terancam punah di pasaran
alias sulit dapatnya. Sehingga waktu saya ingin mencari RAM 1GB tipe ini cukup
sulit mendapatkannya, ada pun seharga 700-an ribu rupiah.
Penyimpanan
sekunder yang dimiliki oleh seri WS ini adalah Harddisk 2,5” Fujitsu
MHV2100AH-PL, 5400RPM, P-ATA. Dari hasil uji perbandingan dengan menggunakan HD
Tune 2.52, seri Harddisk ini adalah harddisk 2,5” yang memiliki pemakaian daya
paling rendah, sehingga mampu bertahan paling lama dibandingkan dengan HDD seri
lainnya.

Rangkuman
perbandingannya:
|
Seri HDD |
Waktu Akses |
Daya Tahan Baterai |
|
Fujitsu
MV2100AHPL(100GB) |
18,6 ms |
4,3% CPU =
3 jam 17 menit |
|
Seagate
5400.3 (80GB) |
16,8 ms |
5,6% CPU =
2 jam 47 menit |
|
Hitachi
5K100 (100GB) |
18,6 ms |
4,4% CPU =
3 jam 10 menit |
Jadi,
kesimpulan untuk HDD nya, termasuk yang tepat untuk sebuah UMPC sekelas ini,
harga untuk pemuktahiran HDD ke kapasitas lebih besar juga tidak terlalu mahal.
Meskipun demikian, menurut saya masih lebih efektif dayanya jika memakai HDD
1,8” seperti pada Fujitsu U1010, dengan daya tahan baterai hingga 4 jam lebih
tapi tentu saja lebih mahal jika ingin dimuktahirkan kapasitasnya.
Video RAM berbagi dengan RAM milik sistem, tergabung ke dalam
chipnya CPU. Standardnya 8 MB, maksimal 256 MB. Hebatnya, saya masih bisa
nonton film tanpa cela menggunakan Kohjinsha ini. Layar Kohjinsha berdimensi
fisik diagonal 7 inchi, dengan pilihan resolusi yang diberikan oleh VRAM
beragam, mulai dari 640x480 pixels (VGA) hingga 1024x768 pixels (XGA) dan
setelah mencoba berbagai macam konfigurasi resolusi, untuk 7 inchi yang paling
baik adalah 800x480 pixels. Seri Kohjinsha ini juga dilengkapi dengan kemampuan
layar putar serta layar sentuh, sehingga layar dapat diputar hingga 180 derajat
dan beroperasi menggunakan layar sentuh layaknya pada tablet pc atau PDA.


Kohjinsha memiliki media input yang sangat lengkap, tidak
tanggung-tanggung, ada empat buah! (1) Keyboard (US) dengan ukuran yang cukup
memadai serta (2) touchpad seperti pada laptop yang biasa beredar di pasaran,
kemudian (3) trackpoint untuk navigasi pada mode layar penuh, dan (4) stylus
pada mode tablet pc.
(4) (3) (2) (1)


Meskipun keyboardnya tampak cukup lega (untuk sebuah UMPC)
namun setelah saya coba, ternyata keyboardnya sama sekali tidak bisa dipakai
secara efektif. Saya beberapa kali harus menekan tombol dengan keras agar
hurufnya mau keluar, apabila tidak, kadang huruf yang sudah saya tekan
tombolnya ketinggalan alias tidak keluar. Jelas sekali bahwa Kohjinsha ini
memiliki masalah yang cukup serius jika ingin mengetik cepat. Touchpad tidak
ada masalah, hanya saja jika jari tangan tidak mungil atau lentik akan menemui
kesulitan untuk memencet tombol kiri-kanan nya. Trackpoint yang
pengoperasiannya menggunakan ibu jari tangan kiri sangat responsif dan mulus
pemakaiannya, tombol kiri-kanan alat inputnya ada di seberang layar dan
pengoperasiannya menggunakan ibu jari tangan kanan. Penggunaan stylus juga tidak ada masalah,
review dalam blog My Kohjinsha menyatakan untuk XP Tablet, stylus sedikit
bermasalah karena tidak terkalibrasi dengan baik (tidak pas menunjuknya) namun
menggunakan XP Home saya tidak menemui kesulitan.Bahkan stylus dipakai untuk
menulis pada Office One Note juga mulus-mulus saja.
Jaringan yang dimiliki oleh Kohjinsha ini standard, cenderung
kurang menurut saya untuk sebuah UMPC. Jaringan nirkabelnya memakai WI-Fi b/g
dan bluetooth v. 2 class 2 (10 meter), sementara jaringan kabelnya memakai LAN
10/100. Tidak ada modem dial-up, dan menurut saya memang tidak perlu ada untuk
sebuah UMPC. Kekurangan dari Kohjinsha, tentu saja pada jaringan nirkabelnya,
yaitu tidak adanya jaringan nirkabel GSM atau CDMA. Masih kalah jika
dibandingkan dengan Sony UX380 atau Fujitsu U1010 (meski harganya juga jauh
beda). Bluetooth dan Wi-Fi hanya dapat dinyalakan dengan bantuan tombol Fn
(Function) pada keyboard, tidak ada tombol hardware untuk menyalakannya.
Sehingga tiap kali menyalakan Kohjinsha saya harus mengaktifkan Wi-Fi apabila
perlu tersambung ke dalam jaringan tersebut. Kinerja nirkabelnya ternyata
sangat memuaskan, Wi-Fi dan bluetooth mulus tanpa kendala, bahkan jika
dibandingkan beberapa laptop lain, dapat memperoleh sinyal di saat laptop lain
tidak memperoleh sinyal (sama-sama mode baterai).
Media slot 3 dalam 1, Memory Stick (Sony), SD Card, dan MMC
didukung oleh Kohjinsha, termasuk CF card (Tipe 1 dan mendukung I/O). Terdapat
juga 2 buah slot USB 2.0, Microphone internal dan eksternal, headphone, serta
sebuah VGA port untuk koneksi ke viewer/monitor luar. Tidak ada masalah untuk
semua media koneksi ini.
Kohjinsha memiliki ukuran fisik 21,8 (P) x 16,3 (L) x2,54 (T)
cm yang tentu saja cukup kecil sehingga bisa masuk ke dalam tas kecil milik
istri saya, selain itu dalam paketnya Kohjinsha juga menyertakan sarung mungil
berwarna putih.

Berat total Kohjinsha bersama baterainya adalah 990 gram,
cukup ringan untuk dibawa kemana-mana, dan kapasitas baterai di atas kertas
adalah 4,5 jam. Sedangkan saya coba memakai Kohjinsha ini dengan Wi-Fi nyala
terus untuk mengunduh file dari internet, kira-kira 3 jam kemudian baterainya
kritis tinggal 5%. Jadi kira-kira daya tahan baterainya ya sekitar 3 jam-an.
Windows XP Home Edition SP 2. What can I say more?
Dari
pemakaian kurang lebih 2 minggu ini, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa
Kohjinsha ini pasti dapat mengambil hati para calon pembelinya, entah dari segi
ukuran, kinerja, maupun harganya (bersaing dibanding UMPC lainnya). Pada saat
saya membeli Kohjinsha ini juga ada beberapa calon pembeli yang menanyakan
namun keduluan oleh saya. Pemilik toko juga mengakui barangnya tidak sampai 2
hari pasti langsung terjual. Ini mengindikasikan bahwa Kohjinsha cukup memiliki
peluang di dalam pasar Indonesia. Dari sisi kinerja, Kohjinsha cukup dapat
melengkapi kebutuhan selayaknya sebuah UMPC. Kelemahan terbesarnya adalah
keyboardnya sangat buruk untuk dipakai sebagai media input.
-
Ukuran
kecil, kinerja bagus
-
Daya
tahan baterai cukup baik
-
Bentuk
yang manis
-
4
media input
-
Keyboard
yang buruk responnya
-
Opsi
jaringan nirkabel tanpa opsi data GSM/CDMA
-
Tipe
RAM yang sulit dicari
Laman ini
ditulis oleh gunggu dan semua isinya adalah milik gunggu pribadi, apabila ingin
dipakai harus seijin pemilik.